Sejak SD, aku sudah terbiasa menjadi orang “terkenal”.
Karena hanya aku yang aneh. Jika orang melihatku dengan tatapan yang aneh,
kekuranganku akan lebih ketara. Karena aku merasa gugup. Dokter syaraf
mengatakan bahwa nama penyakitku ini adalah extra
piramidal. Mungkin terdengar asing, karena hanya segelintir orang di dunia
ini yang mengidapnya.
Extra piramidal adalah
suatu penyakit yang penderitanya memilki kelebihan gerakan yang sulit
dikendalikan. Seperti orang lanjut usia yang tidak bisa mengontrol gerakannya
(dalam bahasa jawa=buyuten). Jika aku takut atau gugup, aku akan seperti itu.
Aku tidak bisa mengontrol gerakan itu. Seluruh badan gemetar tidak normal,
apalagi bagian leher, seperti tidak memiliki tulang, sangat lemah.
Aku gugup saat berbicara di depan orang
banyak, berbicara dengan orang yang baru aku kenal, dan jika aku berbicara pada
orang yang lebih tua (seperti guru, dosen). Bukan itu saja kekuranganku. Dari
kelas satu SD, tangan kananku sudah bermasalah. Secara fisik memang terlihat
normal. Tapi jika aku sudah menulis, tulisanku sama sekali tidak bisa dibaca.
Aku juga mengidap skoliosis. Tulang punggunggku miring ke kanan.
Sudah banyak dokter yang ku datangi agar
bisa menyembuhkan penyakitku. Tapi hasilnya nol besar. Tidak menyerah pada
kedokteran, orang tua mencoba pengobatan alternatif untuk menyembuhkanku selain
juga berdo’a kepada Allah. Puluhan pengobatan altenatif telah aku coba. Mulai sengat
listrik, sengat lebah, akupuntur, pengobatan islami sampai pasang susuk telah
aku jalani agar aku bisa menjadi seperti orang normal pada umumnya. Tapi semua
itu nihil. Sampai sekarang, aku tetap seperti ini.
Aku menjadi tidak suka
bersosialisasi dengan orang lain. aku lebih suka menyendiri. Karena aku minder.
Aku menjadi orang yang tertutup karena penyakitku. Aku selalu menangis jika aku
meratapi nasibku. Aku merasa kalau aku sudah tidak ada gunannya lagi hidup. Aku
ingin mati.
Sering aku menyalahkan orang lain, bahkan
aku pernah menyalahkan Tuhan karena penyakitku ini. Sering aku bertanya, kenapa
harus aku yang seperti ini? Kenapa harus aku yang punya penyakit aneh seperti
ini? Kenapa tidak orang lain? kenapa harus aku? Apa Tuhan tidak sayang kepadaku?
Kenapa Tuhan tidak adil kepadaku? Apa dosaku sehingga aku punya penyakit aneh
ini?
Aku beranggapan, aku sudah terlalu banyak
menyusahkan orang lain. aku membuat malu keluargaku dengan penyakitku.Aku
selalu menyusahkan orang-orang disekitarku, terutama orang tuaku. Mereka
melakukan segalanya agar aku bisa sembuh. Mereka juga yang mencarikanku
sekolah. Di setiap sekolah yang pernah aku tinggali untuk menuntut ilmu, orang
tuaku harus bicara kepada pihak sekolah tentang keadaanku dan meyakinkan pihak
sekolah agar mau menerimaku sebagai muridnya.
Alhamdulillah, aku bisa masuk ke sekolah
yang aku daftar. Tapi, semenjak aku kuliah, aku berusaha untuk bicara sendiri
kepada setiap dosen tentang kekuranganku. Sebenarnya orang tuaku tidak setuju
aku kuliah di luar kota. Tapi aku merayu orang tuaku agar aku di perbolehkan
kuliah di luar kota. Orang tuaku tidak tega membiarkan aku hidup sendiri dengan
keadaanku seperti ini, tapi aku berusaha untuk meyakinkan kedua orang tuaku
bahwa aku bisa hidup mandiri jauh dari orang tua.
Saat pendaftaran perguruan tinggi, aku
memilih jalur undangan (menggunakan rapor SMA), karena jika tes tulis aku akan
sangat kesulitan. Alhamdulillah aku diterima di salah satu perguruan tinggi
negri di Surabaya jurusan Bimbingan Konseling. Banyak yang heran, tidak
percaya, meragukan saat aku di terima di jurusan Bimbingan Konseling. Karena
Bimbingan Konseling akan banyak berbicara pada orang. Sedangkan penyakitku
membuatku “anti” berbicara pada orang.
Saat, aku menjadi mahasiswa. Aku jauh dari
orang tua. Harus lebih mandiri, cari makan sendiri, tinggal sendiri. Saat aku
jauh dari orang tua, aku sering ingat ddosa-dosaku di masa lalu pada orang
tuaku. Aku sering menangis karena dulu sampai sekarang aku selalu merepotkan
kedua orang tuaku. Dan aku tidak yakin, dim masa depan aku bisa membuat orang
tuaku bangga. Aku merasa bersalah.
Saat kuliah, aku harus bicara pada setiap
dosen yang mengajarku tentang kondisiku. Saat UTS dan UAS, teman-temanku
mengerjakan ujian dengan tulis tangan. Tapi aku, sebelum UTS dan UAS
berlangsung, aku harus bicara pada dosen tentang keadaanku dan meminta izin
kepada dosen agar aku diperbolehkan mengerjakan UTS dan UAS menggunakan laptop.
Alhamdulillah, setiap dosen memaklumi dan memperbolehkan aku melaksanakan UTS
dan UAS menggunakan laptop.
Sekarang sudah selesai semester 2, aku
nggak tau gimana semester-semester selanjutnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar