Senin, 18 Juli 2016

Cerita Hidupku

Sejak SD, aku sudah terbiasa menjadi orang “terkenal”. Karena hanya aku yang aneh. Jika orang melihatku dengan tatapan yang aneh, kekuranganku akan lebih ketara. Karena aku merasa gugup. Dokter syaraf mengatakan bahwa nama penyakitku ini adalah extra piramidal. Mungkin terdengar asing, karena hanya segelintir orang di dunia ini yang mengidapnya.
Extra piramidal adalah suatu penyakit yang penderitanya memilki kelebihan gerakan yang sulit dikendalikan. Seperti orang lanjut usia yang tidak bisa mengontrol gerakannya (dalam bahasa jawa=buyuten). Jika aku takut atau gugup, aku akan seperti itu. Aku tidak bisa mengontrol gerakan itu. Seluruh badan gemetar tidak normal, apalagi bagian leher, seperti tidak memiliki tulang, sangat lemah.  
Aku gugup saat berbicara di depan orang banyak, berbicara dengan orang yang baru aku kenal, dan jika aku berbicara pada orang yang lebih tua (seperti guru, dosen). Bukan itu saja kekuranganku. Dari kelas satu SD, tangan kananku sudah bermasalah. Secara fisik memang terlihat normal. Tapi jika aku sudah menulis, tulisanku sama sekali tidak bisa dibaca. Aku juga mengidap skoliosis. Tulang punggunggku miring ke kanan.
Sudah banyak dokter yang ku datangi agar bisa menyembuhkan penyakitku. Tapi hasilnya nol besar. Tidak menyerah pada kedokteran, orang tua mencoba pengobatan alternatif untuk menyembuhkanku selain juga berdo’a kepada Allah. Puluhan pengobatan altenatif telah aku coba. Mulai sengat listrik, sengat lebah, akupuntur, pengobatan islami sampai pasang susuk telah aku jalani agar aku bisa menjadi seperti orang normal pada umumnya. Tapi semua itu nihil. Sampai sekarang, aku tetap seperti ini.
 Aku menjadi tidak suka bersosialisasi dengan orang lain. aku lebih suka menyendiri. Karena aku minder. Aku menjadi orang yang tertutup karena penyakitku. Aku selalu menangis jika aku meratapi nasibku. Aku merasa kalau aku sudah tidak ada gunannya lagi hidup. Aku ingin mati.
Sering aku menyalahkan orang lain, bahkan aku pernah menyalahkan Tuhan karena penyakitku ini. Sering aku bertanya, kenapa harus aku yang seperti ini? Kenapa harus aku yang punya penyakit aneh seperti ini? Kenapa tidak orang lain? kenapa harus aku? Apa Tuhan tidak sayang kepadaku? Kenapa Tuhan tidak adil kepadaku? Apa dosaku sehingga aku punya penyakit aneh ini?
Aku beranggapan, aku sudah terlalu banyak menyusahkan orang lain. aku membuat malu keluargaku dengan penyakitku.Aku selalu menyusahkan orang-orang disekitarku, terutama orang tuaku. Mereka melakukan segalanya agar aku bisa sembuh. Mereka juga yang mencarikanku sekolah. Di setiap sekolah yang pernah aku tinggali untuk menuntut ilmu, orang tuaku harus bicara kepada pihak sekolah tentang keadaanku dan meyakinkan pihak sekolah agar mau menerimaku sebagai muridnya.
Alhamdulillah, aku bisa masuk ke sekolah yang aku daftar. Tapi, semenjak aku kuliah, aku berusaha untuk bicara sendiri kepada setiap dosen tentang kekuranganku. Sebenarnya orang tuaku tidak setuju aku kuliah di luar kota. Tapi aku merayu orang tuaku agar aku di perbolehkan kuliah di luar kota. Orang tuaku tidak tega membiarkan aku hidup sendiri dengan keadaanku seperti ini, tapi aku berusaha untuk meyakinkan kedua orang tuaku bahwa aku bisa hidup mandiri jauh dari orang tua.
Saat pendaftaran perguruan tinggi, aku memilih jalur undangan (menggunakan rapor SMA), karena jika tes tulis aku akan sangat kesulitan. Alhamdulillah aku diterima di salah satu perguruan tinggi negri di Surabaya jurusan Bimbingan Konseling. Banyak yang heran, tidak percaya, meragukan saat aku di terima di jurusan Bimbingan Konseling. Karena Bimbingan Konseling akan banyak berbicara pada orang. Sedangkan penyakitku membuatku “anti” berbicara pada orang.
Saat, aku menjadi mahasiswa. Aku jauh dari orang tua. Harus lebih mandiri, cari makan sendiri, tinggal sendiri. Saat aku jauh dari orang tua, aku sering ingat ddosa-dosaku di masa lalu pada orang tuaku. Aku sering menangis karena dulu sampai sekarang aku selalu merepotkan kedua orang tuaku. Dan aku tidak yakin, dim masa depan aku bisa membuat orang tuaku bangga. Aku merasa bersalah. 
Saat kuliah, aku harus bicara pada setiap dosen yang mengajarku tentang kondisiku. Saat UTS dan UAS, teman-temanku mengerjakan ujian dengan tulis tangan. Tapi aku, sebelum UTS dan UAS berlangsung, aku harus bicara pada dosen tentang keadaanku dan meminta izin kepada dosen agar aku diperbolehkan mengerjakan UTS dan UAS menggunakan laptop. Alhamdulillah, setiap dosen memaklumi dan memperbolehkan aku melaksanakan UTS dan UAS menggunakan laptop.

Sekarang sudah selesai semester 2, aku nggak tau gimana semester-semester selanjutnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar